Penulis : Nyiayu Umainah
Program Studi : Agribisnis
Fakultas : Sains dan Teknologi
Universitas : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Metro Padang.com – Setiap kali isu ketahanan pangan menjadi perhatian publik, solusi yang paling sering muncul adalah meningkatkan produksi. Pemerintah mendorong penggunaan benih unggul, memperluas lahan pertanian, membangun jaringan irigasi, hingga memberikan berbagai bantuan sarana produksi kepada petani. Berbagai kebijakan tersebut tentu penting karena kebutuhan pangan nasional terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk. Namun, di balik fokus besar terhadap peningkatan produksi, terdapat satu persoalan yang sering luput dari perhatian, yaitu hilangnya hasil panen setelah diproduksi atau yang dikenal sebagai food loss.
Padahal, keberhasilan sektor pertanian tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya pangan yang dihasilkan. Sebanyak apa pun hasil panen yang diperoleh, manfaatnya tidak akan optimal apabila sebagian besar mengalami kerusakan, penurunan mutu, atau bahkan hilang sebelum sampai ke tangan konsumen. Dengan kata lain, persoalan pangan bukan hanya soal bagaimana menghasilkan lebih banyak, tetapi juga bagaimana menjaga agar hasil yang sudah diproduksi tidak terbuang sia-sia.
Data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menunjukkan bahwa Indonesia kehilangan pangan sebesar 115–184 kilogram per kapita per tahun. Kerugian ekonomi yang ditimbulkan diperkirakan mencapai Rp213–551 triliun. Angka tersebut menunjukkan bahwa kehilangan pangan bukan lagi persoalan kecil yang hanya terjadi di tingkat petani, melainkan persoalan nasional yang berdampak pada efisiensi ekonomi, ketahanan pangan, dan kesejahteraan masyarakat.

Ironisnya, perhatian terhadap persoalan food loss masih jauh lebih kecil dibandingkan perhatian terhadap peningkatan produksi. Ketika produksi menurun, berbagai kebijakan segera disiapkan. Namun, ketika hasil panen hilang dalam jumlah besar setelah diproduksi, isu tersebut sering kali tidak mendapatkan perhatian yang sama. Akibatnya, pembangunan pertanian cenderung berfokus pada bagaimana menghasilkan pangan lebih banyak, bukan bagaimana menyelamatkan pangan yang sudah ada.
Cara pandang seperti ini perlu dievaluasi. Meningkatkan produksi tanpa mengurangi kehilangan hasil sama seperti terus menambah air ke dalam ember yang bocor. Air memang akan bertambah, tetapi sebagian tetap terbuang karena sumber kebocorannya tidak pernah diperbaiki. Analogi tersebut menggambarkan kondisi pertanian Indonesia saat ini. Kita terus berupaya meningkatkan produksi, tetapi masih membiarkan sebagian hasil panen hilang di sepanjang rantai pasok.
Pada komoditas padi, persoalan ini terlihat cukup jelas. Kehilangan hasil dapat terjadi sejak proses panen, pengeringan, penggilingan, penyimpanan, hingga distribusi. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa susut pascapanen padi di Indonesia masih mencapai sekitar 10 persen. Jika dikonversikan ke dalam volume produksi nasional, jumlah tersebut tentu sangat besar. Padahal, beras merupakan komoditas strategis yang berhubungan langsung dengan kebutuhan pangan mayoritas masyarakat Indonesia.
Salah satu penyebab utama tingginya food loss adalah masih dominannya penggunaan teknologi pascapanen yang sederhana. Di banyak daerah, petani masih mengandalkan metode penjemuran tradisional dengan memanfaatkan sinar matahari secara langsung. Metode ini memang murah dan mudah dilakukan, tetapi sangat bergantung pada kondisi cuaca. Ketika hujan turun atau kelembapan udara meningkat, proses pengeringan menjadi tidak optimal sehingga kualitas gabah menurun dan risiko kerusakan meningkat.
Penjemuran terbuka juga memiliki berbagai kelemahan lain. Gabah rentan terkena debu, kotoran, dan gangguan hama. Selain itu, tingkat kekeringan yang dihasilkan sering kali tidak seragam. Kondisi tersebut menyebabkan kualitas produk menjadi tidak konsisten dan berdampak pada harga jual yang diterima petani. Pada akhirnya, petani tidak hanya kehilangan sebagian hasil panennya, tetapi juga kehilangan potensi pendapatan yang seharusnya bisa diperoleh.
Permasalahan berlanjut pada tahap penggilingan. Sebagian besar penggilingan padi di Indonesia masih beroperasi dalam skala kecil dengan teknologi yang terbatas. Akibatnya, proses pengolahan sering menghasilkan beras pecah dalam jumlah yang cukup tinggi. Meskipun terlihat sederhana, kehilangan kualitas pada tahap ini memiliki dampak ekonomi yang besar karena harga beras sangat dipengaruhi oleh mutu produk yang dihasilkan.
Selain pengolahan, penyimpanan hasil panen juga masih menjadi tantangan. Tidak semua petani memiliki akses terhadap fasilitas penyimpanan yang memadai. Dalam banyak kasus, petani terpaksa menjual hasil panennya segera setelah panen raya karena khawatir kualitas produk akan menurun apabila disimpan terlalu lama. Situasi ini menyebabkan posisi tawar petani menjadi lemah karena mereka harus menjual ketika pasokan sedang melimpah dan harga berada pada titik yang rendah.
Di sisi lain, Indonesia merupakan negara kepulauan dengan sistem distribusi yang tidak sederhana. Hasil pertanian harus melalui perjalanan yang panjang sebelum sampai ke tangan konsumen. Tanpa dukungan sistem logistik dan penyimpanan yang baik, kualitas produk dapat menurun selama proses distribusi berlangsung. Kerugian yang terjadi mungkin tidak selalu terlihat secara langsung, tetapi dampaknya sangat besar terhadap efisiensi rantai pasok pangan nasional.
Melihat berbagai persoalan tersebut, modernisasi pertanian seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai peningkatan produksi melalui teknologi budidaya. Modernisasi juga harus menyentuh seluruh rantai nilai pertanian, terutama pada tahap pascapanen. Selama ini, pascapanen sering dianggap sebagai tahap akhir yang kurang penting dibandingkan proses budidaya. Padahal, justru pada tahap inilah sebagian besar kehilangan hasil dapat terjadi.
Teknologi pascapanen menawarkan solusi yang relatif rasional dan efisien. Penggunaan mesin pengering modern dapat membantu menghasilkan kadar air yang lebih stabil sehingga kualitas gabah tetap terjaga. Teknologi penggilingan yang lebih baik mampu mengurangi jumlah beras pecah dan meningkatkan mutu produk akhir. Sementara itu, fasilitas penyimpanan yang memadai memungkinkan hasil panen bertahan lebih lama tanpa mengalami penurunan kualitas yang signifikan.
Lebih jauh lagi, investasi pada teknologi pascapanen dapat memberikan manfaat ganda. Selain mengurangi kehilangan hasil, teknologi juga berpotensi meningkatkan pendapatan petani melalui kualitas produk yang lebih baik. Dengan kualitas yang lebih tinggi, nilai jual komoditas pertanian dapat meningkat sehingga keuntungan yang diperoleh petani juga bertambah.
Namun demikian, transformasi ini tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada petani. Sebagian besar petani Indonesia merupakan petani skala kecil yang memiliki keterbatasan modal dan akses teknologi. Oleh karena itu, peran pemerintah menjadi sangat penting dalam menciptakan ekosistem yang mendukung modernisasi pascapanen.
Pemerintah perlu memperluas program bantuan yang tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga pada penguatan sektor pascapanen. Penyediaan mesin pengering, revitalisasi penggilingan padi, pembangunan fasilitas penyimpanan, serta pelatihan penggunaan teknologi perlu dilakukan secara lebih masif. Selain itu, akses pembiayaan bagi kelompok tani juga perlu diperkuat agar mereka memiliki kemampuan untuk mengadopsi teknologi yang lebih modern.
Perguruan tinggi dan lembaga penelitian juga memiliki tanggung jawab besar. Berbagai inovasi yang dihasilkan tidak boleh berhenti sebagai laporan penelitian atau publikasi ilmiah semata. Hasil riset harus diterjemahkan menjadi teknologi yang mudah digunakan, terjangkau, dan sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan. Sementara itu, sektor swasta dapat mengambil peran melalui investasi dan kemitraan yang mendukung penguatan rantai pasok pertanian.
Pada akhirnya, ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak pangan yang mampu diproduksi, tetapi juga oleh seberapa besar kemampuan kita menjaga hasil produksi tersebut agar tidak hilang sebelum dimanfaatkan. Selama pembangunan pertanian masih terlalu berfokus pada peningkatan produksi, persoalan food loss akan tetap menjadi kebocoran besar yang menghambat efisiensi sistem pangan nasional.
Sudah saatnya paradigma pembangunan pertanian Indonesia bergeser. Modernisasi pertanian tidak hanya berarti menanam lebih banyak, tetapi juga menyelamatkan lebih banyak. Menekan food loss bukan sekadar upaya teknis untuk mengurangi kerusakan hasil panen, melainkan langkah strategis untuk meningkatkan ketahanan pangan, memperkuat kesejahteraan petani, dan mewujudkan sistem pertanian yang lebih efisien serta berkelanjutan. Jika Indonesia ingin membangun sektor pertanian yang benar-benar modern, maka teknologi pascapanen tidak boleh lagi ditempatkan sebagai pelengkap, melainkan sebagai salah satu prioritas utama pembangunan pertanian nasional.





