Mengabdilah Selayaknya Pengabdian Kuliah Kerja Nyata (KKN)

0
102

Inovasi membedakan antara pemimpin dan pengikut.” – Steve Jobs

Metro Padang.com – Setiap tahun, ribuan mahasiswa turun ke desa-desa untuk menjalankan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Bagi sebagian orang, KKN hanya dianggap kewajiban akademik yang harus dilalui sebelum skripsi. Tapi bagi saya, momen ini adalah panggung kecil untuk menjawab pertanyaan besar: pemimpin macam apa yang ingin kita tunjukkan saat benar-benar hidup di tengah masyarakat?

Sejak kecil saya percaya, hidup yang bermakna bukan sekadar mengalir mengikuti arus, melainkan berani menciptakan arus sendiri. Keyakinan itu semakin kuat ketika saya mengenal sosok Tan Malaka, bukan hanya pejuang, tetapi pemikir yang berani berbeda dan melampaui zamannya. Dari situ saya belajar, inti kepemimpinan bukan soal jabatan, melainkan jejak yang ditinggalkan.

Dan KKN, menurut saya adalah salah satu ruang paling jujur untuk menguji jejak itu.

Ketika mahasiswa turun ke desa, mereka tidak lagi berbicara di forum organisasi kampus yang isinya sesama mahasiswa sepemikiran. Mereka berhadapan dengan masyarakat yang punya cara pandang, kepentingan, dan kecurigaan sendiri terhadap anak kampus yang datang membawa program. Di titik inilah karakter kepemimpinan diuji, bukan di ruang rapat, melainkan di teras rumah warga, di balai desa, dan di tengah kelompok sendiri yang mulai lelah dan berbeda pendapat.

Pengalaman saya sebagai Koordinator Mahasiswa di kelas dan Wakil Ketua Umum di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Surau Konstitusi mengajarkan hal serupa. Saat itu saya dan kawan-kawan harus menjadi penengah di tengah gejolak yang penuh ketegangan di kampus. Situasinya panas, penuh amarah, dan sangat mudah terjebak sibuk mencari siapa yang salah. Tapi saya belajar satu hal penting: kekerasan dan sikap defensif tidak pernah menyelesaikan apa pun. Yang menyelesaikan adalah dialog, yaitu memahami lebih dulu apa yang diinginkan pihak lain, baru kemudian menawarkan apa yang kita bawa.

Prinsip yang sama, saya kira, berlaku persis untuk mahasiswa yang akan mengelola kelompok KKN dan berinteraksi dengan masyarakat setempat. Konflik kecil dalam kelompok, soal pembagian tugas, program yang tidak sinkron dengan kebutuhan desa, atau ego antaranggota, akan selalu muncul. Begitu pula gesekan dengan warga yang skeptis terhadap program yang dianggap tidak relevan bagi mereka. Cara meredakannya bukan dengan memaksakan agenda kampus, melainkan dengan mendengar dulu apa yang benar-benar dibutuhkan masyarakat, lalu menyusun program bersama mereka, bukan sekadar untuk mereka.

Dari pengalaman itu, saya semakin yakin ada tiga karakter esensial yang perlu dimiliki mahasiswa yang hendak memimpin di tengah masyarakat, termasuk saat KKN.

Pertama, keterbukaan. Pemimpin kelompok KKN yang baik akan merangkul semua anggota dan mendengarkan keluhan warga tanpa merasa paling benar. Keterbukaan menciptakan ruang di mana setiap orang, baik anggota kelompok maupun warga setempat, merasa didengar.

Kedua, empati. Program KKN yang paling sering gagal bukan karena kurang dana atau kurang kreatif, melainkan karena tidak lahir dari empati terhadap kebutuhan riil masyarakat. Empati mengharuskan kita berhenti sejenak dari agenda sendiri, dan benar-benar memahami apa yang dihadapi warga dalam keseharian mereka.

Ketiga, pendirian yang kuat. Mahasiswa yang turun ke desa akan menghadapi banyak tarikan kepentingan, dari tokoh masyarakat, aparat desa, hingga sesama anggota kelompok. Tanpa pendirian yang jelas tentang tujuan pengabdian itu sendiri, mahasiswa akan mudah kehilangan arah dan sekadar menjalankan program demi memenuhi laporan akhir.

KKN acap kali dipahami sebagai pengabdian satu arah, mahasiswa datang membawa ilmu, masyarakat tinggal menerima. Padahal pengabdian yang sesungguhnya lahir dari dialog dua arah dan kesediaan untuk dipimpin oleh kebutuhan masyarakat, bukan sekadar dipimpin oleh target akademik. Di situlah karakter kepemimpinan mahasiswa benar-benar teruji.

Bagi teman-teman yang sebentar lagi berangkat KKN, saya kira pertanyaannya bukan lagi “program apa yang akan kita jalankan”, melainkan “pemimpin seperti apa yang ingin kita tunjukkan selama berada di tengah masyarakat”. Sebab program bisa direncanakan matang-matang di atas kertas, tetapi karakter kepemimpinan hanya teruji ketika kita benar-benar berhadapan dengan orang-orang yang cara berpikirnya berbeda dari kita.

Seperti kata Tan Malaka, “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.” KKN barangkali menjadi salah satu momen terakhir di bangku kuliah untuk mempraktikkan idealisme itu secara langsung, bukan lagi di ruang diskusi kampus, melainkan di tengah kehidupan masyarakat yang sesungguhnya.

 

Khairul Fadli Rambe

Mahasiswa Hukum Keluarga Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini