Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumatera Barat mulai menyiapkan potensi dunia usaha daerah untuk memanfaatkan peluang ekonomi dari penyelenggaraan Indian Ocean Rim Association (IORA) 2027. Agenda internasional tersebut dinilai dapat menjadi momentum untuk memperluas pasar komoditas unggulan Sumatera Barat sekaligus memperkenalkan potensi pariwisata daerah ke pasar internasional.
Pembahasan mengenai peluang tersebut mengemuka dalam Rapat Pimpinan Provinsi (Rapimprov) Kadin Sumatera Barat 2026 yang berlangsung di Hotel Santika Padang, Kamis.
Ketua Kadin Sumatera Barat, Buchari Bachter, mengatakan agenda internasional seperti IORA harus dipersiapkan sejak dini oleh dunia usaha, sehingga Sumatera Barat tidak hanya menjadi daerah yang ikut menyaksikan kegiatan internasional, tetapi mampu memanfaatkan momentum tersebut untuk membuka akses ekonomi baru.
Menurutnya, berbagai komoditas unggulan Sumatera Barat memiliki peluang untuk diperkenalkan dan dipasarkan melalui forum yang melibatkan negara-negara di kawasan Samudra Hindia tersebut.
“Komoditas-komoditas Sumatera Barat harus kita siapkan untuk bisa diperkenalkan dan dijual pada forum IORA yang akan digelar pada Juni 2027,” ujar Buchari.
Ia menilai peluang tersebut perlu dipersiapkan secara bersama-sama oleh pemerintah, Kadin, asosiasi usaha, pelaku UMKM, serta sektor perbankan dan dunia usaha lainnya.
Menurut Buchari, kesiapan produk menjadi hal penting. Pelaku usaha tidak cukup hanya memiliki komoditas, tetapi juga perlu memastikan kualitas, kontinuitas pasokan, kemasan, standar produk, hingga kemampuan memenuhi permintaan pasar yang lebih luas.
Pariwisata Ikut Dipromosikan
Selain perdagangan, Kadin Sumbar juga melihat IORA 2027 sebagai kesempatan memperkenalkan sektor pariwisata Sumatera Barat.
Buchari mengatakan kedatangan peserta dan delegasi internasional dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan berbagai destinasi wisata Sumatera Barat.
Pariwisata, menurutnya, memiliki keterkaitan erat dengan sektor perdagangan dan investasi. Ketika kunjungan wisatawan meningkat, dampaknya dapat dirasakan oleh hotel, restoran, transportasi, UMKM, ekonomi kreatif hingga berbagai jasa pendukung lainnya.
“Pariwisata tidak berdiri sendiri. Ketika orang datang ke Sumatera Barat, mereka membutuhkan transportasi, hotel, makanan, oleh-oleh dan berbagai kebutuhan lainnya. Di situlah terjadi efek ekonomi berantai,” katanya.
Konsep tersebut sejalan dengan pendekatan Tourism, Trading and Investment (TTI) yang menjadi salah satu perhatian Kadin Sumbar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Karena itu, penyelenggaraan berbagai kegiatan berskala nasional dan internasional dinilai perlu dimanfaatkan untuk mengintegrasikan promosi pariwisata dengan promosi produk dan peluang investasi Sumatera Barat.
Perlu Kesiapan Dunia Usaha
Ketua Panitia Pelaksana Rapimprov Kadin Sumbar 2026, Joni Mardianto, mengatakan persiapan menghadapi agenda internasional perlu dilakukan secara terencana agar pelaku usaha daerah mampu menangkap peluang yang tersedia.
Menurutnya, Kadin memiliki peran untuk menjembatani kepentingan dunia usaha dengan pemerintah serta membuka ruang kolaborasi antarpelaku usaha.
“Momentum seperti ini harus dipersiapkan bersama. Jangan sampai kegiatan internasional datang, tetapi dunia usaha kita belum siap dengan produk, layanan dan informasi yang akan ditawarkan,” ujarnya.
Dalam Rapimprov tersebut, Kadin Sumbar juga membahas berbagai persoalan penguatan dunia usaha, termasuk pengembangan pariwisata, infrastruktur, keselamatan transportasi, serta konsolidasi organisasi di tingkat kabupaten dan kota.
Libatkan Perbankan dan Dunia Transportasi
Upaya memperkuat ekosistem dunia usaha juga terlihat dari keterlibatan berbagai mitra bisnis dalam kegiatan Rapimprov Kadin Sumbar 2026.
Kegiatan tersebut menghadirkan Armen Nazwar, Ketua Cabang BNI, serta Eko Febrianto, Branch Manager Blue Bird Sumbar, yang turut mendukung kegiatan sebagai sponsor.
Keterlibatan sektor perbankan dan transportasi dinilai relevan dengan agenda pengembangan ekonomi dan pariwisata. Perbankan memiliki peran dalam mendukung pembiayaan usaha, sementara transportasi menjadi bagian penting dalam memastikan konektivitas wisatawan maupun aktivitas perdagangan.
Buchari menegaskan, peluang IORA 2027 harus mulai dipersiapkan dari sekarang. Dengan kolaborasi pemerintah dan dunia usaha, agenda internasional tersebut diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi dapat memberikan manfaat nyata bagi perekonomian Sumatera Barat.
“Yang paling penting adalah bagaimana momentum internasional ini memberikan dampak kepada masyarakat dan dunia usaha di Sumatera Barat,” ujarnya. (mp)





