Tim Pemantau Udara UNP dan APDI Sumbar Melakukan Pendampingan Teknis Kepada BASARNAS

0
608

metropadang.com | Tim Survey dan Pemantauan Udara Universitas Negeri Padang yang ditugaskan oleh Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Negeri Padang melalui Surat Tugas Nomor 1871/UN35.15/TU/2024 untuk melakukan kegiatan Pengabdian UNP dalam rangka tanggap darurat bencana Sumatera Barat.

Tim yang beranggotakan Dr. Nofi Yendri Sudiar, M.Si (dosen Fisika), Dedy Fitriawan, M.Si (dosen PJSIG) dan Edi Kurnia, S.Si (Tendik FMIPA) berangkat menuju lokasi bencana alam pada selasa tanggal 14 Mei 2024 dan langsung melakukan assessment awal pemantauan udara di Nagari Pandai Sikek lereng kaki Gunung Singgalang.

Sebagai bentuk koordinasi dalam proses tanggap darurat bencana alam yang lintas sektor di lapangan, tim Survey dan Pemantauan Udara UNP berkolaborasi dengan Asosiasi Pilot Drone Indonesia (APDI) Regional Sumbar yang beranggotakan Nofi Yendri Sudiar, Edi Kurnia, Dedy Fitriawan, Rizkanur Marna, Dio Hardiyan (alumni PJSIG UNP) dan M Rayhan (Mahasiswa PJISIG UNP) terus melakukan koordinasi dengan BASARNAS yang berposko utama di Pendopo Bupati Tanah Datar. Pada Rapat Koordinasi yang diadakan pada selasa malam (14/5) yang dipimpin oleh Kepala Kantor BASARNAS Padang, Abdul Malik memberikan arahan dalam percepatan pencarian korban banjir.

Demi mendukung Percepatan pencarian korban banjir bandang dan lahar dingin Marapi, kita dari tim survey dan pemantauan udara UNP yang sekaligus merupakan pengurus APDI regional Sumbar melakukan pendampingan teknis bagi tim SAR menggunakan drone sensor termal (Inframerah termal) untuk deteksi jenazah korban di sepanjang aliran sungai. Kegiatan ini diminta langsung oleh Bapak Abdul Malik pada rakor tanggap darurat di Pendopo Bupati Tanah Datar selasa malam (14/5) untuk seluruh tim drone BASARNAS  sebanyak 8 orang peserta (4 orang SAR Jambi, 2 orang SAR Pekanbaru dan 2 orang SAR Padang) dengan 5 unit drone thermal.

Cara kerja drone termal ini yakni dengan melakukan penginderaan menggunakan kamera termal. Objek yang dilihat akan memberikan warna-warna dari biru sampai merah. Warna-warna tersebut menunjukkan suhu yang berbeda pada objek yang dikenainya seperti bangunan, jalan, tanaman, orang dan lain sebagainya. Warna biru menunjukkan suhu yang rendah dan warna merah sebaliknya suhu yang tinggi. Dengan penggunaan teknologi ini, kita bisa dengan cepat mengidentifikasi korban banjir. Korban yang merupakan manusia akan mengeluarkan emisi yang dapat dideteksi oleh kamera termal drone. Meskipun manusia telah meninggal, tubuhnya masih mengeluarkan emisi, namun tidak sama dengan manusia hidup. Untuk mengenali dengan korban yang meninggal dengan baik biasanya pencarian dilakukan pada dini hari menjelang subuh karena suhu sekitar akan lebih rendah dibanding suhu tubuh manusia yang telah meninggal.

Pada kegiatan pendampingan ini Kepala Basarnas Padang, Bapak Abdul Malik merasa puas dengan kolaborasi ini. Beliau berharap ada tindak lanjut dari kegiatan ini. Beliau secara lisan mengundang Tim Pemantau Udara UNP dan APDI regional Sumbar untuk berkunjung ke kantor mereka yang berlokasi di jalan Raya By Pass. Harapan beliau agar bisa membuat kerjasama secara tertulis dan berdampak bagi semua pihak. (mp)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini