Rendang Lokan Pesisir Selatan Jadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia

0
1925

Pesisir Selatan – Rendang Lokan Pesisir Selatan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Nadiem Makarim.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pesisir Selatan, Salim Muhaimin, Kamis (28/3) mengatakan, ditetapkannya Rendang Lokan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, maka Pesisir Selatan akan semakin dikenal secara nasional.

“Penetapan Rendang Lokan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia itu sudah dilakukan melalui kajian mendalam oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi bersama instansi terkait lainnya,” kata Salim.

Dikatakan, salah satu jenis rendang yang populer di daerah pesisir adalah Rendang Lokan, tidak terbuat dari daging sapi melainkan tiram (lokan).

Rendang Lokan merupakan salah satu makanan khas masyarakat yang tinggal di daerah ini. Mereka memanfaatkan sumber daya laut untuk makanan mereka.

Rendang bagi suku Minangkabau tidak hanya dianggap sebagai makanan tradisional tetapi juga sebagai simbol identitas budaya suatu daerah.

Rendang lokan sangat lezat dan tentunya memiliki rasa yang berbeda dengan rendang berbahan dasar daging sapi atau kerbau. Selain itu, harga tiram yang lebih murah dibandingkan daging sapi atau daging lainnya memicu masyarakat sekitar untuk lebih kreatif memproduksi rendang lokan sebagai identitas kulinernya.

Selain dari segi rasa dan harga, lokan menjadi makanan yang banyak diminati karena kandungan nutrisinya yang sangat baik. Kandungan gizi yang terdapat pada bahan utama seperti pada lokan merupakan faktor penting yang perlu diperhatikan dalam pengolahan makanan tradisional.

Keberadaan rendang lokan merupakan hasil proses mobilitas dan kemampuan masyarakat Minangkabau dalam beradaptasi dengan lingkungan tempat tinggalnya. Hal ini melahirkan beberapa inovasi termasuk kuliner yang sesuai dengan karakter egaliter masyarakat Minangkabau.

Saat ini rendang lokan sudah tersedia di Kabupaten Pesisir Selatan, seperti di pusat rendang dan restoran. Berbeda dengan dataran tinggi yang tidak terdapat restoran.

Sejalan dengan berkembangnya kawasan wisata, kawasan pantai menjadi semakin populer sehingga rendang lokan menjadi kuliner favorit baik wisatawan lokal maupun mancanegara yang berkunjung ke kawasan tersebut.

Hampir setiap rumah makan di kawasan tersebut memasang banner atau brand yang bertuliskan rendang lokan dan kari ikan karang (gulai ikan karang) tersedia. Kedua kuliner ini menjadi ikon masyarakat Minangkabau di kawasan pesisir.

Rendang lokan: kuliner khas masyarakat pesisir Sumatera Barat.Rendang sebagai kuliner khas masyarakat Minangkabau kini menjadi menu utama dan makanan favorit yang familiar di Indonesia.

Selain itu seiring dengan berkembangnya pariwisata di Kabupaten Pesisir Selatan, rendang lokan telah populer hingga mancanegara. Namun masyarakat di luar Minangkabau hanya mengenal satu jenis rendang, yaitu rendang daging.

Memasak rendang membutuhkan tiram segar dengan beberapa bahan lain yang tumbuh di daerahnya. Bahan-bahannya adalah santan, jahe, kunyit, serai, dan bahan-bahan lain yang diperoleh dari tanaman sekitar rumah mereka. Semua bahan diproses dengan tangan (manual) bukan mesin.

Santan diperas dari kelapa dan bahan lainnya digiling dengan batu gerinda. Mereka meyakini rasanya akan berbeda jika dibuat dengan tangan dibandingkan menggunakan mesin (teknologi).

Bahan pembuatan rendang lokan sama saja dengan rendang daging. Satu kilogram tiram membutuhkan 300 gr cabai giling halus, 4 L santan (dari 4 butir kelapa), 15 siung bawang merah giling halus, 5 siung bawang putih giling halus, 1 sendok teh jahe giling halus, 2 sendok makan giling halus. kencur, ¼ kilogram kunyit yang ditumbuk halus, 2 batang serai, 5 lembar daun jeruk purut, 3 lembar daun salam, 1 lembar daun kunyit, 1 sendok teh garam, dan 1 sendok makan ketumbar yang ditumbuk halus.

Proses memasak rendang lokan sama seperti rendang dengan daging, memasaknya menggunakan tangan dan kayu bukan dengan kompor gas atau listrik. Sebab, menurut mereka rasanya akan berbeda jika masakannya menggunakan kompor gas/listrik. Prosesnya memakan waktu cukup lama, sekitar 6 hingga 8 jam untuk mendapatkan tekstur dan warna ideal—cokelat tua—dengan kandungan minyak di dalamnya.

Proses memasak rendang dilakukan dengan cara tradisional, bahan-bahannya kaya akan bumbu lokal, memberikan cita rasa tertentu dan tak kalah dengan rendang dengan daging. Tiram segar sebagai hasil laut yang dipadukan dengan santan gurih dan rempah-rempah segar menciptakan keunikan kuliner Minangkabau.

Oleh karena itu, rendang inilah yang menjadi kuliner favorit masyarakat Sumatera Barat karena kandungan gizinya yang baik dan harganya yang murah.

Keunikan rendang lokan terletak pada bahan dan bumbunya. Sayur yang digunakan sebagai bahannya adalah pakis (pakis) dan daun singkong yang tidak pernah digunakan untuk rendang dengan daging.

Pakis (pakis) merupakan tanaman liar yang tumbuh di sepanjang tepian sungai, kawasan bakau, sedangkan singkong tumbuh di sekitar rumah dan umbinya (singkong) digunakan sebagai pengganti beras.

Perpaduan sayuran tersebut membuat rendang semakin nikmat dan keduanya memiliki kandungan zat besi yang tinggi Rendang lokan jadi ikon wisata bahari Sumatera Barat.

“Kami atas nama pemerintah daerah dan masyarakat Kabupaten Pesisir Selatan mengucapkan terimakasih kepada Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Nadiem Makarim yang telah menetapkan Rendang Lokan Pesisir Selatan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia,” katanya. (mp)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini