metropadang.com – Cuaca ekstrem yang memicu banjir bandang dan longsor di Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, kembali menegaskan rapuhnya akses dan kesiapsiagaan wilayah di Sumatera Barat (Sumbar).
Di tengah upaya penyelamatan yang berjalan berpacu dengan waktu, ratusan warga masih belum ditemukan, sementara jalur darat menuju lokasi terputus total.
Pada Sabtu (29/11/2025), Wakil Gubernur Sumatera Barat (Wagub Sumbar), Vasko Ruseimy, meninjau langsung lokasi terdampak dengan menggunakan helikopter akibat akses darat yang sepenuhnya lumpuh.
Ia datang bersama Kapolda Sumbar Irjen Gatot Tri Suryanta, Bupati Agam Benni Warlis, jajaran TNI, Polri serta tim SAR gabungan dan unsur kebencanaan.
Kunjungan tersebut dilakukan bukan hanya untuk melihat kondisi terkini, tetapi juga memastikan percepatan evakuasi serta distribusi logistik.
Menurut Vasko, situasi di Nagari Salareh Aia “sangat berat” karena desa itu terisolasi total. Di lapangan, belasan jenazah disemayamkan sementara di halaman masjid karena belum dapat dipindahkan akibat sulitnya akses.
Vasko menyampaikan bahwa hingga kunjungannya itu, sekitar 300 orang masih belum ditemukan, sementara belasan korban meninggal telah ditemukan oleh warga dan petugas yang bekerja bahu-membahu.
Dua jenazah di antaranya belum dapat diidentifikasi sehingga diterbangkan ke Rumah Sakit Bhayangkara, Kota Padang.
“Dengan bantuan helikopter, dua jenazah kami bawa langsung menuju Rumah Sakit Bhayangkara, Kota Padang, untuk proses identifikasi dan pemulasaraan lebih lanjut,” ujar Vasko.
Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak akan menghentikan operasi pencarian sampai seluruh warga diketahui keberadaannya.
Menurut Vasko, warga setempat dan para relawan berupaya keras mengevakuasi korban meski peralatan terbatas dan kondisi medan sangat sulit.
Akses yang tertutup total membuat semua proses penyelamatan menjadi bergantung pada cuaca. Ia menyebutkan bahwa pembukaan akses jalan darat sedang diprioritaskan agar bantuan dapat dikirimkan lebih cepat.
“Ini duka yang sangat dalam bagi Sumatera Barat. Kita akan terus berjuang sampai semua korban ditemukan dan setiap keluarga mendapatkan kepastian,” kata Wagub Sumbar.
Pemandangan di lokasi, menurutnya, dipenuhi kesedihan. Belasan jenazah yang terbaring, proses evakuasi yang terhambat, serta kondisi warga yang menunggu kepastian membuat suasana penuh keharuan.
Tim gabungan bekerja tanpa henti untuk menyisir area terdampak, menyalurkan logistik, menghadirkan layanan kesehatan, serta mengevakuasi korban ke titik yang lebih aman.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Sumbar, Era Sukma Munaf menyampaikan, perkembangan data korban dan kondisi kerusakan yang terus bergerak.
Hingga Sabtu malam, jumlah korban meninggal dunia di Sumatera Barat mencapai 98 orang, sementara 93 orang lainnya masih hilang dan 17 warga mengalami luka-luka. Jumlah pengungsi telah mencapai 9.410 orang.
Era memaparkan bahwa total warga terdampak mencapai 29.536 orang. Adapun kerusakan rumah warga meliputi 1.010 unit rusak ringan, 556 unit rusak sedang, serta 232 unit rusak berat.
Kerusakan fasilitas publik juga cukup masif, mencakup 11 musala, empat fasilitas kesehatan, serta sejumlah ruas jalan, jembatan, dan area persawahan.
Ia menekankan bahwa angka tersebut sewaktu-waktu dapat berubah karena proses pendataan dan pencarian di lapangan masih berlangsung.
“Semua data ini masih bergerak, karena masih ada pencarian dan pendataan di lapangan,” katanya.
Rincinya, 72 korban meninggal berasal dari Palembayan, 10 dari Kota Padang, serta tambahan korban dari Tanah Datar yang menurut Era belum terinput dalam data resmi.
Sebanyak 16 daerah di Sumbar diketahui terdampak bencana, dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda. Sementara Mentawai hanya terdampak banjir di Siberut tanpa menimbulkan korban jiwa.
Menurut Era, beberapa titik masih terisolasi, termasuk dua lokasi di Palembayan yang belum dapat dijangkau tim akibat jalan terputus dan banyaknya titik longsor.
Selain itu, wilayah Malalak di Kabupaten Agam juga “terkepung” karena jalur Padang Lua dan Sicincin mengalami kerusakan berat.
Di Sicincin, jembatan pada kawasan Koto Mambang terputus dan masih dalam tahap pengerjaan oleh Dinas Bina Marga, Cipta Karya dan Tata Ruang (BMCKTR) Sumbar.
Era mengungkapkan bahwa empat alat berat telah dikerahkan pada Sabtu pagi, dengan prioritas utama membuka akses dan melakukan pencarian korban.
Bantuan alat berat tambahan dari berbagai pihak juga telah masuk. Balai Wilayah Sungai Sumatera V (BWSS V) membantu pengerjaan di Lubuk Minturun untuk percepatan normalisasi dan akses.
Ia menyebutkan bahwa cuaca menjadi kendala utama. “Kami baru bisa bekerja pada Sabtu (29/11/2025) karena cuacanya cukup cerah. Kalau kemarin masih hujan deras, sehingga mengganggu alat kita bekerja,” ujarnya.
Jika tak ada aral melintang, pada Minggu (30/11/2025), lanjut Era, lokasi terdampak di Lubuk Minturun dijadwalkan dikunjungi oleh Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto, khususnya untuk memantau kondisi pengungsi.
Soal distribusi bantuan di Palembayan, Era menegaskan bahwa hambatan terbesar adalah akses jalan. Banyaknya titik longsor dan jembatan yang putus membuat logistik sulit didorong masuk.
Pengerahan alat berat difokuskan untuk membuka jalur sehingga mobilisasi tim, kebutuhan medis, serta suplai makanan dapat segera dilakukan.
Ia menggambarkan kondisi di Agam dan sejumlah wilayah lain menunjukkan bahwa cuaca ekstrem yang melanda Sumatera Barat dalam beberapa hari terakhir memberikan dampak yang jauh lebih luas daripada yang diperkirakan.
Dengan ratusan warga belum ditemukan dan ribuan lainnya mengungsi, pemerintah daerah bersama tim gabungan terus memaksimalkan upaya meski terhambat kondisi geografis dan cuaca.
Sementara pencarian terus berlangsung, pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk tetap waspada serta memperbarui informasi resmi terkait perkembangan bencana.
Situasi yang dinamis menuntut kesiapan dan koordinasi yang lebih kuat agar setiap penanganan dapat dilakukan secara tepat waktu.
Upaya pencarian, perbaikan akses, dan penyaluran bantuan kini menjadi fokus utama Pemprov Sumbar.
Dalam duka yang menyelimuti, pesan utama dari pemimpin daerah adalah penyelamatan nyawa dan kepastian bagi keluarga korban harus menjadi prioritas tertinggi. (*)