Pemerintah Resmikan Klinik UMKM Minang Bangkit untuk Percepat Pemulihan Ekonomi Pascabencana di Sumbar

0
1171
metropadang.com – Pemerintah pusat bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) memperkuat langkah pemulihan ekonomi pascabencana melalui peresmian Klinik UMKM Minang Bangkit, Jumat (23/1/2026). Klinik tersebut diresmikan oleh Wakil Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (Wamen UMKM) RI, Helvi Moraza, didampingi Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah, di halaman Kantor Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sumbar.
Wamen UMKM RI, Helvi Moraza menyampaikan Klinik UMKM Minang Bangkit merupakan inisiatif Kementerian UMKM RI untuk mempercepat pemulihan UMKM yang terdampak bencana di Sumbar. Melalui pendekatan terpadu, pemerintah menargetkan UMKM tidak hanya pulih, tetapi juga mampu tumbuh dan naik kelas.
“Kita berkumpul hari ini dalam suasana keprihatinan, tetapi kita harus tetap optimis. Harapan itu masih ada. Kementerian UMKM memiliki tugas khusus untuk memastikan pertumbuhan, pembinaan, sekaligus menaik-kelaskan UMKM terdampak bencana di Sumatera Barat,” ujar Helvi.
Ia menegaskan, penanganan pascabencana tidak berhenti pada fase tanggap darurat. Justru, fase pemulihan menjadi tahap paling krusial, terutama bagi UMKM yang menjadi penopang utama ekonomi keluarga dan daerah.
“Satu UMKM bisa menghidupi hingga lima orang. Karena itu, pemulihan UMKM harus dilakukan secara cepat, fokus, dan serius,” tegasnya.
Menurut Helvi, kehadiran Klinik UMKM Minang Bangkit merupakan hasil kolaborasi lintas sektor, melibatkan Satgas Pemulihan Dampak Bencana Nasional, kementerian terkait, serta pemerintah daerah. Ia juga mengapresiasi Pemprov Sumbar dan pemerintah kabupaten/kota atas kecepatan pemulihan pascabencana.
“Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri, Sumatera Barat termasuk daerah dengan tingkat pemulihan tercepat dibanding wilayah terdampak bencana lainnya. Semangat yang sama kami dorong agar tercermin pula dalam pemulihan sektor UMKM,” ungkapnya.
Helvi menambahkan, pemulihan UMKM tidak hanya menyentuh aspek usaha, tetapi juga kondisi mental dan psikologis pelaku usaha. Oleh karena itu, Klinik UMKM Minang Bangkit menyediakan layanan pendampingan psikologis, selain konsultasi bisnis, perizinan, akses permodalan, dan perluasan pasar.
“UMKM Minangkabau memiliki DNA kewirausahaan yang kuat. Mereka tidak lagi diajari cara berdagang, tetapi mereka kita fasilitasi agar bisa kembali berdagang dan berkembang,” katanya.
Dengan mengusung semangat “mambangkik batang tarandam”, Klinik UMKM Minang Bangkit dihadirkan sebagai pusat layanan terpadu bagi UMKM terdampak bencana. “Dengan kolaborasi yang solid, saya yakin ekonomi Sumatera Barat akan kembali menggeliat,” ujar Helvi.
Sementara itu Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah menyampaikan optimismenya bahwa UMKM Minang akan bangkit dalam waktu yang tidak terlalu lama. Ia menegaskan komitmen Pemprov Sumbar untuk memastikan UMKM tidak hanya kembali ke kondisi semula, tetapi mampu meningkatkan daya saing.
“Kami bertekad membuat UMKM Sumatera Barat tidak sekadar pulih pascabencana, tetapi juga naik kelas dan berdaya saing. Program Klinik UMKM Minang Bangkit sejalan dengan visi pembangunan daerah dalam memperkuat UMKM sebagai penggerak ekonomi dan pencipta lapangan kerja,” ujar Mahyeldi.
Ia juga menyinggung keberadaan Pluzi Academy sebagai bagian dari ekosistem pembinaan UMKM di Sumbar. Menurutnya, sinergi antara Klinik UMKM Minang Bangkit dan Pluzi Academy akan mempercepat proses transformasi UMKM.
“Dengan Klinik UMKM Minang Bangkit dan Pluzi Academy, UMKM kita bukan hanya pulih, tetapi bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya,” katanya.
Mahyeldi mengajak para pelaku UMKM memanfaatkan seluruh layanan yang tersedia, mulai dari konsultasi usaha, pembiayaan, pemasaran, hingga peningkatan kapasitas produksi. Pendampingan dilakukan secara langsung maupun daring, termasuk melalui Mobil Klinik UMKM yang menjangkau wilayah terdampak bencana.
Ia menegaskan, Pemprov Sumbar akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah pusat, perbankan, OJK, Bank Indonesia, BUMN, serta mitra usaha lainnya. “Dengan dukungan semua pihak, kita wujudkan UMKM Sumatera Barat yang tangguh dan mandiri,” tutupnya.
Pada kesempatan yang sama, Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM, Siti Azizah melaporkan jumlah UMKM terdampak bencana di Sumbar. Berdasarkan catatannya, hingga 18 Januari 2026 tercatat 4.876 UMKM terdampak bencana, mereka tersebar di 12 kabupaten dan kota di Sumbar.
Siti Azizah menjelaskan, upaya pemulihan akan dilakukan melalui tiga tahap, yakni pemulihan mental, pemulihan usaha, dan penguatan pertumbuhan UMKM. Sedangkan untuk bantuan sarana produksi dan bahan baku, Ia menyebutkan, itu telah disalurkan ke sejumlah daerah terdampak sejak beberapa waktu yang lalu dan akan terus diperluas secara bertahap.
“Bantuan ini mungkin sederhana, tetapi menjadi stimulus penting bagi para pengusaha UMKM untuk memulai kembali usahanya,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan penyerahan penghargaan kepada para pemangku kepentingan atas kontribusinya dalam penanganan pascabencana tahap pertama, yang melibatkan unsur perbankan, BUMN, perusahaan swasta, serta pendamping psikolog dari HIMPSI. Acara dilanjutkan dengan pengguntingan pita dan peninjauan langsung layanan Klinik UMKM Minang Bangkit. (adpsb/cen/bud)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini