Alirman Sori : Jangan Pernah Menyerah Untuk Mencapai Tujuan

0
3561
Keterbatasan ekonomi keluarga membuat banyak rintangan yang harus dihadapi Alirman Sori kecil. Bahkan ia sudah harus bekerja di usia SD. Ia justeru tumbuh menjadi remaja yang penuh ambisi mengenai masa depan. Semesta bergerak, realitas pun berubah pengalaman masa lampau memberi warna pada pandangan dan sikap hidupnya, yang akhirnya mengantarkannya pada “arus agung” dalam mengangkat marwah keluarga, karena ia meyakini, bahwa sesungguhnya hidup itu adalah iktiar dan doa !

Metro Padang – Kalaulah Almarhum Nurman masih hidup, tentu ia akan bangga melihat anak ketiga dari tiga orang bersaudara buah cintanya dengan Hj.Sarilan bisa sukses meraih gemintang dengan gemilang dan kini dikenal sebagai senator Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) dan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) asal Sumatera Barat (Sumbar).

Almarhum Nurman bersama sang istri tercinta mungkin juga tidak pernah membayangkan sang buah hati yang dilahirkan di Gurun Panjang Pesisir Selatan, 14 Mai 1969 dan  diberinama Alirman Sori, yang dibesarkan dari tetes keringat mengalir sebagai seorang petani bisa mencapai puncak pendidikan tertinggi dengan bergelar akademis Dr. H. Alirman Sori, SH, M.Hum, MM

Sementara bagi Alirman Sori, cinta dan kasih sayangnya pada ayah bundanya pun tak bisa diungkap hanya melalui kata-kata belaka.

Bagi Alirman, sang ayah adalah “malaikat” yang sangat mencintai dirinya dan selalu mendengar apa yang ia katakan, bahkan bisa memahami apa yang belum ia katakan. Ia pun tahu bahwa hati si ayah juga akan senantiasa memeluknya selamanya, meski tak pernah ia perlihatkan dalam sikap dan perbuatan yang manja.

Ia pun menengadah, matanya terlihat menerawang seolah sedang menjemput kenangan yang pernah dilalui bersama ayah yang sangat ia cintai.

Perlahan namun pasti, ia kembali teringat pesan-pesan ayahanda ketika ia masih kecil hingga berangkat dewasa. Meski ayahnya hanyalah seorang lelaki kampung dan tidak memiliki pendidikan tinggi, kata Alirman Sori, namun ia selalu membekali dirinya dengan petuah-petuah bijak dan nilai-nilai agama untuk bekal dalam mengarungi kehidupan dunia yang tak pernah kenal tawar menawar.

Alirman juga selalu teringat pesan ayahnya ; “Hidup ini adalah pilihan yang diputuskan. Jika tak ingin terlihat bodoh, jangan lakukan hal yang bodoh”.

Ia juga masih terbayang manakala ayahnya selalu mengingatkan bahwa pendidikan merupakan senjata paling ampuh yang bisa digunakan untuk merubah dunia. Karena itulah kata Alirman Sori, meski kedua orang tuanya hanya petani, namun itu tak dijadikan alasan untuk tidak “memburu” pendidikan sebagai bekal kehidupan.

Sebagai anak yang berbakti pada kedua orang tua, Alirman muda pun tak mau terlena dan tenggelam dalam euforia masa-masa remajanya.

Ia pun tak pula hendak menyembunyikan keadaan bahwa sebagai anak petani, dirinya mengalami kesulitan ekonomi untuk sekolah. Karena itulah kata dia, semenjak sekolah dasar (SD) ia sudah mulai banting tulang membantu orang tua berjualan goreng pisang.

Bahkan hingga ia berangkat remaja dan memasuki masa pubertas, serta mulai timbul rasa suka pada lawan jenisnya, dirinya tidak pernah malu untuk membantu ibunya berjualan lontong sayur di kampungnya.

Bahkan saat libur sekolah di hari Minggu tak pernah disia-siakannya untuk mengais rezeki halal sebagai kenek mobil cigak baruak dan kadang-kadang membantu bekerja di bengkel motor.

Manakala melangkah setapak lagi dan Alirman muda mulai mengenyam pendidikan SMA, rasa tanggung jawab pun mulai bertambah dalam dirinya.

Ia tak sungkan untuk sekolah sambil bekerja sebagai pelayan warung nasi atau ampera. Bahkan setiap libur sekolah di bulan Ramadhan pun ia manfaatkan membantu suami tantenya berjualan kain di leter U Pasar Raya Padang.

Meski kehidupan ekonomi keluarganya kurang memadai kala itu dan pendakian hidup yang dilalui terasa tinggi, tajam dan berliku, kata suami dari Nira Pravita Sary dan ayah dari enam orang anak ini, hal itu tak dijadikannya sebagai alasan untuk menyalahkan takdir dan larut dalam hidup tanpa cita-cita.

Karena itulah, begitu menamatkan pendidikan di SMA 1 Negeri Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan, berbekal uang tabungan dari kegigihannya dalam mengais rezeki semenjak dari SD, dijadikannya modal untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan mendaftar kuliah di Akademi Manajemen Informatika Komputer (AMIK) YPTK Padang (sekarang Universitas Pura Indonesia).

Tujuan kuliah bagi Alirman Sori saat itu bukan hanya sekedar berburu status sebagai mahasiswa belaka. Ia sangat menyadari bahwa dengan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi wawasan dan ilmu pengetahuan akan semakin bertambah. Karena itulah ia tak ragu meninggalkan kampung halaman, Pesisir Selatan, dan hidup di rantau, Kota Padang, untuk menggenggam cita-cita dan demi mengangkat marwah keluarga atau mambangkik batang tarandam.

Bahkan ia juga memahami betul dengan pesatnya perkembangan zaman saat ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi itu, akan jauh berbeda dengan puluhan tahun ke depan. Karena itulah ia memancangkan tekad untuk kuliah di AMIK, dimana kala itu perkembangan teknologi komputer belum sedahsyat saat ini.

Tak hanya sekedar menggali wawasan ilmu di bangku kuliah, bahkan saat itu Alirman muda pun membekali diri dengan berbagai kegiatan organisasi. Dengan berorganisasi itu pulalah ia mulai belajar untuk mengatur waktu, memilah-milah antara kegiatan prioritas dan non-prioritas, kegiatan apa yang harus ia dahulukan dan lain sebagainya.

Sebagai anak muda yang hidup di rantau saat itu, Alirman menyadari dengan berorganisasi ia menjadi terpacu untuk melakukan hal-hal yang produktif dan mengurangi kegiatan yang kurang produktif. Tak mengherankan bila ia pernah tercatat di berbagai organisasi, seperti  ormas kepemudaan KNPI, AMPI dan Gema Kosgoro. Bahkan tahun 1988 ia sudah tercatat menjadi kader Golkar, dulu namanya Sekber Golkar.

Kematangan Alirman dalam berorganisasi itu pulalah mengantarkan dirinya dipercaya menjadi Sekretaris Golkar Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) tahun 1997 hingga 2004.  Tahun 2004 – 2009 ia dipercaya menjabat sebagai Wakil Ketua Golkar Pessel, hingga akhirnya dipercaya menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golongan Karya (Golkar) Kabupaten Pesisir Selatan tahun 2009-2014.

Ketika ditanya mengapa dengan dasar pendidikan ilmu komputer lulusan AMIK akhirnya ia tertarik pada dunia politik, Alirman mengaku tak pernah menyangka kalau akhirnya ia secara total terjun ke dunia politik.

Setelah menamatkan pendikan di AMIK Padang, kata Alirman Sori yang akrab disapa Also ini, ia sempat bekerja di Lembaga Pendidikan Ayu Komputer, milik Arnoldi Refles, sebagai direktur pendidikan dan staf pengajar.

Setelah risign dari pendidikan Ayu Komputer tahun 1994, ia dipercaya menjadi Direktur Utama Lembaga Pendidikan Gema Komputer. Dua tahun mengabdi di Gema Komputer, kemudian memilih risign dan melanjutkan bekerja sebagai wartawan di Harian Singgalang mulai Januari 1997 sampai 2007 dan juga sebagai koordinator Singgalang Wilayah Pesisir Selatan.

Sembari menjalankan profesi sebagai wartawan dan banyak bergaul dengan berbagai kalangan, terutama para politikus, naluri politik Also mulai terasah, apa lagi ia memang juga sudah berkecimpung di partai Golkar.

Bahkan ia memberanikan diri untuk maju sebagai calon anggota legislatif periode 1999 – 2004 dan berhasil duduk, serta dipercaya menjabat sebagai Ketua Fraksi DPRD Pesisir Selatan. Tahun 2004-2009 ia kembali maju dari partai Golkar. Ia pun berhasil meraih suara terbanyak dan dipercaya sebagai Ketua DPRD Pesisir Selatan.

Berbekal pengalaman sebagai Ketua DPRD Pesisir Selatan, kepercayaan diri Alirman Sori mulai bertambah, ia pun maju mencalonkan diri sebagai anggota DPD RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) Sumatera Barat untuk periode tahun 2009-2014.

Sempat jeda satu periode, ia kembali mencalonkan diri untuk menjadi Anggota DPD RI pada periode 2019-2024 dan berhasil terpilih. Semenjak tahun 2015 sampai sekarang ia juga tercatat sebagai Dosen dan Ketua SENAT YBK ABK Palang Merah Indonesia.

Alimar Sori telah membuktikan bahwa sebenarnya ada jarak antara mimpi indah dan keindahan sukses. Untuk itulah ia memancangkan tekad dan menanamkan kegigihan agar mampu menempuh jarak itu. Ia pun tak pernah menyerah meski hidup dalam sulit, karena ia tahu bahwa Tuhan akan “memberi imbalan” kepada mereka yang bekerja keras.  (rel)

moris

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini